Embung Sidowayah Panekan Disiapkan untuk Irigasi 100 Hektare Lahan Pertanian


magetanviral.com, MAGETAN - Pembangunan Embung Sidowayah di Kabupaten Magetan memasuki tahap ketiga dengan progres fisik sekitar 60 persen. Infrastruktur senilai Rp699.048.000 itu diharapkan mampu mengatasi kekurangan air irigasi yang kerap menghambat aktivitas pertanian saat musim kemarau.

Berdasarkan papan informasi proyek, pembangunan dilaksanakan oleh CV Surya Galaxy dengan masa pengerjaan 120 hari kalender. Sementara itu, CV Cakra Tirta bertindak sebagai konsultan pengawas, dengan pelaksanaan proyek melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan.

Kepala Desa Sidowayah, Drs. Suyatno, mengatakan pembangunan embung menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Embung tersebut diproyeksikan mendukung pengairan sekitar 100 hektare lahan sawah dengan jumlah penerima manfaat kurang lebih 250 petani.

“Yang utama, embung ini untuk pengairan pertanian. Setiap musim kemarau, sebagian sawah tidak bisa ditanami karena kekurangan air. Bahkan, petani yang mendapatkan giliran pengairan pun belum tentu bisa panen pada musim tanam kedua,” ujarnya.

Menurut Suyatno, pemerintah desa telah mengusulkan pembangunan embung sejak 2020. Sebelumnya, desa mengajukan bantuan sumur pompa, tetapi usulan tersebut belum terealisasi. Pemerintah desa kemudian mengusulkan pembangunan embung dengan sumber air yang direncanakan berasal dari Sungai Setono.

Ia menegaskan, fungsi utama embung adalah menunjang kebutuhan irigasi pertanian. Adapun pemanfaatan kawasan untuk kegiatan masyarakat, termasuk olahraga, dapat dipertimbangkan sebagai pengembangan tambahan pada masa mendatang.

“Respons masyarakat sangat positif. Mayoritas warga kami bekerja sebagai petani. Harapannya, keberadaan embung ini bisa membantu mengatasi kekurangan air sehingga lahan pertanian dapat dimanfaatkan lebih optimal,” katanya.

Dari sisi pelaksanaan, Tri Susilo menjelaskan bahwa pekerjaan tahap ketiga difokuskan pada pembangunan struktur utama embung. Pekerjaan meliputi pintu air, bangunan pelimpah, serta konstruksi pendukung untuk mengatur aliran air masuk dan keluar.

Menurut Tri, proses penggalian dan penyiapan area konstruksi pada tahap awal membutuhkan waktu cukup lama. Pengerjaan juga harus menyesuaikan kondisi aktual di lapangan.

“Progres pekerjaan di lapangan sekitar 60 persen. Pada awalnya, proses penggalian dan penyiapan area bangunan membutuhkan waktu cukup lama. Pelaksanaan juga harus menyesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan mengacu pada desain teknis yang telah ditetapkan serta berada dalam pengawasan konsultan dan pendampingan dinas terkait. Salah satu material yang digunakan adalah beton siklop, yakni beton yang dikombinasikan dengan batu berukuran besar untuk mendukung kekuatan struktur sekaligus mempertimbangkan efisiensi biaya.

Selain struktur utama, pekerjaan mencakup penyiapan saluran untuk mengarahkan aliran air menuju embung. Sistem tersebut diperlukan untuk mengendalikan aliran air dan mengurangi risiko luapan yang berpotensi menggerus lahan persawahan di sekitarnya.

Tri menyebut, penyelesaian Embung Sidowayah secara keseluruhan kemungkinan masih memerlukan tahapan pembangunan lanjutan. Kelanjutannya bergantung pada perencanaan teknis dan ketersediaan anggaran pemerintah daerah.

Dengan potensi layanan sekitar 100 hektare lahan pertanian, Embung Sidowayah diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan sekaligus menjaga produktivitas pertanian warga. Namun, efektivitas manfaatnya akan bergantung pada ketersediaan sumber air, kelancaran distribusi irigasi, serta pengelolaan dan pemeliharaan embung setelah pembangunan selesai.

Bagi petani Sidowayah, keberadaan embung ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan air yang selama ini membatasi masa tanam dan mengancam hasil panen, terutama saat musim kemarau.[yes/red]
Lebih baru Lebih lama