![]() |
| Tiyas Maulana Sedang Memahat Kayu di Bengkelnya |
Pemuda yang
sebelumnya aktif sebagai penabuh gendang dalam kelompok kesenian reog itu mulai
menekuni kerajinan barongan secara serius sejak melihat peluang yang jarang
dilirik orang lain. Saat musim pentas tiba, permintaan topeng barongan
meningkat tajam, namun ketersediaan barang sering kali terbatas.
Melihat
kondisi tersebut, Tiyas memutuskan belajar membuat barongan secara mandiri
tanpa mengikuti pendidikan seni formal. Ia mengandalkan pengamatan langsung
terhadap karya-karya pengrajin senior serta belajar melalui proses coba dan
salah.
Keputusan
itu tidak mudah. Pada awalnya, banyak hasil karyanya yang belum sesuai harapan.
Namun kecintaannya terhadap kesenian reog membuatnya terus mencoba hingga
menemukan teknik yang tepat.
Ia bahkan
rela berburu bahan baku terbaik agar hasil karyanya memiliki kualitas premium.
Kulit pelapis barongan didatangkan langsung dari daerah yang dikenal sebagai
pusat seni reog, yakni Kabupaten Ponorogo, serta sebagian dari wilayah Magetan
sendiri.
Meski
demikian, menurut Tiyas, tantangan terbesar bukan terletak pada bahan ataupun
proses memahat kayu.
“Yang
paling sulit itu memberi ‘nyawa’ pada wajah barongan,” ujarnya.
Baginya,
karakter barongan tidak hanya ditentukan oleh bentuk kepala, tetapi juga
ekspresi wajah. Guratan
motif harimau, sorot mata yang tajam, hingga kesan garang dan berwibawa harus
benar-benar presisi.
Kesalahan
kecil saja, kata dia, dapat membuat karakter barongan kehilangan wibawa dan
nilai artistiknya.
Tanpa latar
belakang pendidikan seni rupa, Tiyas melatih keterampilannya secara perlahan.
Ia berulang kali mengasah teknik menggambar pola, memahat detail, hingga
menentukan komposisi warna agar tampilan barongan terlihat hidup.
Satu Bulan
untuk Satu Karya
Proses
pembuatan satu barongan tidak bisa dilakukan secara instan. Untuk menghasilkan
satu karya, Tiyas membutuhkan waktu sekitar satu bulan pengerjaan.
Tahapan
yang dilakukan meliputi pemilihan bahan, pemahatan, pemasangan kulit pelapis,
pengecatan hingga proses finishing. Cuaca menjadi faktor yang cukup menentukan.
Saat musim
hujan datang, proses pengeringan cat dan bahan sering terhambat sehingga
pengerjaan bisa molor lebih lama dari target.
“Kalau
hujan terus, pengeringannya lama. Kadang harus menunggu benar-benar kering
supaya hasilnya maksimal,” jelasnya.
Harga
Jutaan Rupiah, Pesanan Berdatangan
Ketekunan
pemuda tersebut kini mulai membuahkan hasil. Barongan karyanya diminati
berbagai kelompok seni hingga kolektor.
Untuk barongan ukuran kecil sekitar 35
sentimeter, ia mematok harga sekitar Rp 800 ribu. Sedangkan ukuran lebih besar,
yakni 60 hingga 75 sentimeter, dibanderol antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta
tergantung tingkat detail dan kerumitan pengerjaan.
Harga tersebut dinilai sepadan dengan
kualitas serta proses panjang yang harus dilalui dalam setiap produksi.
Dalam satu
bulan, pesanan yang masuk bisa membuatnya meraup penghasilan jutaan rupiah.
Menjaga
Warisan Budaya Lewat Karya
Di tangan
Tiyas, barongan bukan sekadar topeng kayu pelengkap pertunjukan. Ia melihat
kerajinan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap
hidup di tengah generasi muda.
Menurutnya,
seni tradisi tidak hanya bisa dilestarikan melalui panggung pertunjukan, tetapi
juga melalui kreativitas ekonomi yang memberi manfaat nyata bagi pelakunya.
Kini, ia
berharap semakin banyak anak muda yang berani terjun ke dunia seni tradisi
sekaligus menjadikannya peluang usaha.
“Kalau kita
mau belajar dan tekun, budaya juga bisa jadi jalan rezeki,” pungkasnya.(yep/mv)
