Pasutri Muda di Pelosok Magetan Sukses Ekspor Kulit Kebab ke Luar Pulau, Omzet Ratusan Juta



magetanviral.com, MAGETAN - Siapa sangka, dari sebuah dusun di kaki perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, lahir produk kuliner yang merambah pasar nasional. Adalah Zulfikal Farrok (29) dan istrinya, Eka Puryanti (27), pasangan suami istri (pasutri) asal Dusun Tangkil, Desa/Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, yang sukses menyulap desanya menjadi sentra produksi kulit kebab atau tortilla.

Merintis usaha sejak tahun 2021, pasutri muda ini membuktikan bahwa domisili bukan penghalang untuk sukses. Kini, bisnis yang dikelola dari rumah tersebut mampu meraup omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Keahlian Zulfikal memproduksi tortilla ternyata didapat dari pengalaman masa lalunya saat merantau ke Sidoarjo. Pernah bekerja di perusahaan serupa, ia menimba ilmu mulai dari proses produksi hingga manajemen operasional. Berbekal pengalaman itu, ia memilih pulang kampung untuk membangun tanah kelahirannya.

"Kami menyediakan berbagai pilihan ukuran diameter, mulai kecil, sedang, hingga besar. Standar kualitas kami jaga agar tetap lentur dan tidak mudah sobek, sehingga mitra pedagang puas," ujar Zulfikal, Selasa (21/4/2026).

Meski berlokasi di daerah perbukitan yang cukup terpencil, jangkauan pasar produk buatan tangan warga Poncol ini sudah melintasi samudera. Permintaan dari luar Pulau Jawa terus melonjak signifikan.

"Permintaan luar Jawa luar biasa. Untuk wilayah Lombok saja, kami kirim sebanyak 2 ton setiap minggunya. Itu belum termasuk Samarinda dan wilayah Jawa Tengah," imbuhnya.

Kini, Zulfikal mulai serius menggarap pasar Jawa Timur yang menurutnya sedang tumbuh pesat. "Kami coba buka peluang di Jawa Timur karena sekarang di wilayah ini baru mulai banyak UKM kebab," jelas pria berusia 29 tahun itu.

Keberhasilan bisnis ini tak hanya dirasakan oleh Zulfikal dan Eka, tapi juga membawa berkah bagi warga sekitar. Saat ini, mereka telah memberdayakan 44 karyawan yang seluruhnya merupakan warga lokal Desa Poncol. Tak main-main, Zulfikal berkomitmen memberikan upah sesuai standar UMR Magetan bagi para stafnya.

Namun, saking derasnya pesanan, jumlah tenaga kerja yang ada saat ini ternyata masih belum mencukupi kuota produksi harian.

"Dengan 44 karyawan saja kami masih kewalahan. Permintaan pelanggan sangat besar, jadi sebenarnya kami masih butuh banyak tenaga tambahan lagi," akunya.

Ke depan, Zulfikal tidak hanya ingin terpaku pada kulit kebab. Ia berencana melakukan ekspansi produk dengan memproduksi kulit lumpia. Ia berharap, usahanya bisa terus berkembang dan menjadi tumpuan ekonomi bagi lebih banyak tetangganya di desa.

"Harapan saya ke depan, usaha ini bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih luas lagi dan bermanfaat bagi banyak orang," pungkasnya. [yep/red]

Lebih baru Lebih lama