“Semua listrik dari PLTS masuk ke jaringan PLN, lalu kita pakai sesuai kebutuhan. Jadi ada perhitungan antara yang masuk dan yang kita gunakan, itu yang membuat tagihan listrik kita berkurang,” kata Nur Haryani, Selasa (21/4/2026).
Efek efisiensi ini pun sangat terasa pada pos anggaran rutin dinas. Nur memaparkan, sebelum menggunakan PLTS, tagihan listrik kantornya bisa menembus angka di atas Rp3 juta setiap bulannya. Namun, setelah panel surya beroperasi optimal, angka tersebut menyusut signifikan.
Untuk diketahui, PLTS rooftop di kantor Disnakkan Magetan ini memiliki kapasitas inverter sekitar 25 kWp. Proyek ini mulai dibangun pada tahun 2020 dan resmi beroperasi penuh untuk menunjang kebutuhan operasional kantor sejak 11 Oktober 2020 setelah melalui proses commissioning.
Baca Juga : Wacana ASN WFH dan WFA, Pemkab Magetan Jamin Pelayanan Publik Tak Terganggu
Meski menawarkan keuntungan besar, Nur mengakui pemanfaatan energi surya bukan tanpa tantangan. Perawatan berkala menjadi kunci utama agar performa alat tetap prima. Ia menceritakan, pada tahun 2024 lalu, pihaknya sempat mengalami kendala teknis.
“Waktu itu kabel dari panel ke *inverter* sempat terbakar karena beban tidak seimbang. Tapi sudah segera ditangani dan sekarang kembali normal,” ungkapnya.
Selain teknis kelistrikan, kebersihan fisik panel juga menjadi perhatian rutin. “Panel harus rutin dibersihkan dari debu. Kalau kotor, penyerapan sinar matahari tidak maksimal,” tambahnya.
“Selain hemat biaya, ini juga bagian dari upaya kita menjaga lingkungan. Harapannya ke depan semakin banyak instansi maupun masyarakat yang memanfaatkan energi terbarukan seperti ini,” pungkas Nur. [yep/red]
